Selasa, 23 Februari 2016

Kepulauan Serwaru Leti

Kisaran 3 hari 2 malam saya berada Pulau Babar/ Tepa, saya pun melanjutkan perjalanan menuju ke Kepulauan Serwaru tepatnya di Pulau Leti..Selama di Tepa, saya terus mencari informasi jadwal pelayaran ke pelabuhan setiap hari, mengingat jadwal pelayaran yang tidak pasti karena cuaca pada bulan tersebut masih dipengaruhi oleh angin Timur dimana ombak lautan bisa berbahaya untuk pelayaran.
Menurut info warga, hari Rabu akan ada Kapal Perintis yang akan masuk di Tepa dengan tujuan pelayaran ke Pulau Leti, pada Senin pagi sebenarnya ada Kapal Feri milik ASDP masuk di Tepa akan tetapi Kapal Feri dengan tujuan Pulau Leti tersebut tidak diperbolehka berlayar karena cuaca tidak memungkinkan untuk pelayaran, ombak pun mencapai 2 meter (menurut informasi perkiraan dari BMKG setempat). Rabu pagi pukul 06.00 kami pun segera meluncur ke Pelabuhan Tepa untuk naik ke Kapal Perintis Cantika 88 tujuan Pulau Leti. Tiket kapal seharga 30 ribu dan saya kembali menyewa kamar ABK dengan tarif 300 ribu per malam dengan jarak tempuh kurang lebih 12 jam untuk sampai ke Pulau Leti.

Pulau Leti termasuk dalam jajaran Kepulauan Serwaru Maluku Barat Daya, di Kepulauan Serwaru sudah memiliki pusat pemerintahan di Kabupaten Moa yang berada di Pulau Moa yang berjarak 30 menit dari Pulau Leti dengan transportasi speed boat yang dipatok per kepala 50 ribu.

KM Chantika 04 jurusan Ambon - Kupang NTT merapat di Dermaga Tepa
















Selama perjalanan dari Tepa ke Pulau Leti, cuaca cukup tidak bersahabat (menurut saya) dengan ombak 1,5 - 2 meter menemani perjalanan kami, Sangat terasa sekali saat kapal dihajar ombak setinggi itu, pusing mual menjadi satu, Alhamdulillah saya tidak sampai muntah hehe..

30 April 2015 pukul 09.00 pagi WIT kami tiba, tapi tidak di Pulau Leti, Kapal Chantika singgah lebih dulu di Pulau Moa (Jarak Pulau Moa dan Leti hanya 30 menit menggunakan speed boat). Tujuannya untuk menurunkan / menaikkan penumpang yang memiliki keperluan di Puau Moa. Pulau ini merupakan pusat administrasi Pemerintahan yang ada di Maluku Barat Daya. Saya langsung turun terlebih dahulu di Pulau Moa untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek yang bertarif 100 ribu per kepala dengan tujuan dermaga speed boat guna melanjutkan penyeberangan ke Pulau Leti.

Turun di Pulau Moa
















Dermaga Pulau Moa
















Pulau Letti adalah sebuah kecamatan, yaitu Kecamatan Letti, yang terdiri dari 7 Desa dan 6 Dusun dengan jumlah Penduduk sebanyak 8.767 jiwa yang terdiri dari laki - laki sebanyak 3.861 dan perempuan 3.906 jiwa, dengan luas 243,30 km2. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai petani dan peternak, dan ada pula yang berprofesi sebagai nelayan karena wilayah pulau Letti yang dikelilingi oleh lautan.
Desa-desa di Pulau Letti adalah : Tutuwaru, Nuwewang(memiliki 1 dusun), Tomra(3dusun), Tutukey(1 dusun Serwaru,sekaligus ibukota kecamatan), Batumiau, Laitutun, dan Luhulely(dusun yoiha). Hanya di Tomra yang memiliki pelabuhan utama sebagai tempat bersandarnya kapal laut perintis, yaitu sejenis kapal barang yang juga memuat penumpang. Kapal perintis tersebut hanya ada setiap 3-4 hari sekali, dalam kondisi cuaca normal. Hal ini terjadi karena masih minimnya sarana angkutan massal (kapal laut) di area Kepulauan Maluku.
Budaya yang paling populer di daerah ini ialah budaya "snyoli lyieta".
Di Letti terdapat minuman "sagero" (Jawa : legen), yaitu minuman yang berasal dari air buah pohon Aren (Jawa : buah siwalan) dan bisa didapatkan pula manisan buah mangga dan madu pohon. Hampir sebagian besar penduduk Kecamatan Letti beragama Kristen. (https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Leti)
Di pulau Leti ini ada penginapan, tetapi jangan harap ada warung. Oleh karena itu, kami berdua menginap di bekas Pos Angkatan Laut yang sudah dijadikan rumah tinggal oleh Keluarga Komandan Bp. Adi, beliau asli Magelang Jawa Tengah dan sudah tinggal tugas sebagai Personil Angkatan Laut 10 tahun di Pulau Leti.
Komandan Adi bersama Pak Okto di Pantai Desa Laitutun



Saya bersama Komandan Adi


Cukup lama saya tinggal di Pulau Leti ini, sekitar 6 hari. Selama tinggal di rumah Komandan Adi, kebaikan dan ketulusan beliau untuk membantu saya yang notabene sama-sama orang Jawa sangat luar biasa, segala urusan dan kewajiban saya di Pulau Leti beliau back up semuanya selain menyediakan tempat tinggal dirumah, mulai dari mencari motor, kendaraan roda tiga bahkan menghubungi satuan Angkatan Laut lain yang berada di Pulau Kisan dan Lirang (tujuan saya berikutnya) dengan tujuan suapaya begitu saya tiba di Pulau tersebut sudah disambut oleh personil dan sudah mengetahui tujuan kedatangan saya. Semoga di lain kesempatan saya bisa berkunjung lagi di Pulau ini, Amin

Next Trip Pulau Kisar Maluku Barat Daya
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

13 komentar

  1. Maaf mas Muhammad Radifa baru balas sekarang..ada penginapan namanya Kaiwatu Indah per malam rate Rp. 300.000 dekat dermaga pelabuhan Moa.. Demikian info dari saya.. Terima kasih

    BalasHapus
  2. Wow..
    Saya sama mas satu speed boat waktu dari moa ke letti.
    Kalau tidak salah naik speed boat warna putih

    BalasHapus
  3. Wow..
    Saya sama mas satu speed boat waktu dari moa ke letti.
    Kalau tidak salah naik speed boat warna putih

    BalasHapus
  4. Wow..
    Saya sama mas satu speed boat waktu dari moa ke letti.
    Kalau tidak salah naik speed boat warna putih

    BalasHapus
  5. Wow..
    Saya sama mas satu speed boat waktu dari moa ke letti.
    Kalau tidak salah naik speed boat warna putih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ke Pulau Leti kisaran April 2014.. Waktu itu barengan saya di speed berkisar 8 orang kalau tidak salah.. Mas Rio sendiri ke Pulau Leti tahun ini kah?

      Hapus
  6. Mas iksan kondisi pulau letti skrg bagaimana? Mengenai listrik dan air terutama. Saya dan suami berencana akan pindah feb 2017 ke pulau letti karena suami dpt tugas mnjd danramil di pulau letti. Hanya kondisi sy sedang hamil jd khawatir susah air ����.. minta infonya ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak miqya..kalau di Pulau Leti,listrik menyala hanya malam dr pukul 18.00 sore - 06.00 pagi, selebihnya kalau pagi sampai sore mengandalkan genset masing2 milik warga (bagi yg punya).. Untuk masalah air, di Leti mengandalkan bak tampung air bantuan pemerintah (bukan pam lho mba hehe), saat saya di Leti kisaran bulan 4 air waktu itu lancar, tp menurut info penduduk sekitar ada kalanya di bulan tertentu susah air.. Kalau Danramil, mungkin nanti mbak tinggal bukan di Pulau Leti, tapi di Pulau sebelahnya yaitu Pulau Moa..sekian info dari saya..kalau kurang jelas bisa kontak di email saya.. Trm ksh

      Hapus
  7. kangen kampung halaman saya di desa Tomra..saya stay di Jkt 4 tahun terakhir ini.saya rencana bulan desember 2017 ini mau balik ke Letti..makasih mas Iksan,sudah berkunjung ke kampung halaman saya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pulau Leti memberikan kenangan luarbias Pak James Septory.. Penduduk yang ramah.. Masih ingat saya waktu ditawarin "mas jawa ayo sini ada sopi buat mas " hahahaha...

      Hapus
  8. Mas kalau rental motor berapaan d sana yak

    BalasHapus
  9. saya tugas di letti 7,5 tahun.. hehe.. warung makan ada mas.. cuma bukanya siang aja..

    BalasHapus

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Mochammad Iksan
Designed by Blog Thiet Ke
Posts RSSComments RSS
Back to top